
Jagung (Zea mays L.) adalah tanaman rumput-rumputan monokotil semusim (±3 bulan) dengan sistem perakaran serabut, batang tegak beruas (tidak bercabang), serta bunga jantan dan betina terpisah dalam satu tanaman. Tanaman ini memiliki daun memanjang, berbiji tunggal (berkeping satu), dan dapat tumbuh setinggi 0,6-3 meter.
Berikut adalah rincian karakteristik jagung berdasarkan morfologinya:
Akar: Akar jagung merupakan akar serabut yang terdiri dari akar primer, sekunder, dan adventif. Akar adventif berkembang dari buku batang bagian bawah untuk menopang tanaman agar kokoh.
Batang: Batang berbentuk silindris, beruas-ruas, padat (berisi jaringan parenkim), dan tumbuh tegak ke atas, tidak memiliki kambium sehingga tidak mengalami pertumbuhan sekunder (tidak membesar).
Daun: Daun jagung berukuran besar dan panjang dengan tepi bergelombang, tersusun berselang-seling pada sisi batang. Tulang daun menonjol dan memiliki helai daun yang lurus (linear).
Bunga: Jagung adalah tanaman berumah satu (monoecious). Bunga jantan (malai/tassel) terletak di ujung batang, sementara bunga betina (tongkol/pistilate) berada pada ketiak daun di tengah batang.
Biji/Buah: Biji jagung berukuran kecil, tersusun berderet pada tongkol, dengan warna beragam (kuning, putih, merah, ungu, hitam). Biji memiliki kulit tipis dan endosperm yang menjadi bagian utama konsumsi.
Siklus Hidup: Jagung merupakan tanaman semusim (annual) yang menyelesaikan satu siklus hidupnya dalam 80-150 hari.
Habitat: Dapat tumbuh optimal di daerah tropis dan subtropis dengan suhu 27-32°C dan pH tanah 5,6-7,5.
Karakteristik ini membuat jagung menjadi salah satu tanaman serealia yang memiliki daya adaptasi cukup tinggi.