Tampilkan postingan dengan label Hama dan Penyakit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hama dan Penyakit. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Februari 2026

Hama Putih Palsu (Cnaphalocrocis medinalis)

Hama Putih Palsu (Cnaphalocrocis medinalis) 

Hama putih palsu (Cnaphalocrocis medinalis) adalah hama yang menyebabkan daun padi menggulung dan memiliki bercak putih memanjang, sering terjadi karena pupuk nitrogen berlebih. Gejala utamanya adalah larva memakan jaringan hijau dari dalam gulungan daun, yang mengganggu fotosintesis dan berpotensi menurunkan hasil jika menyerang daun bendera. Pengendalian dilakukan dengan pemupukan berimbang, penggunaan insektisida (fipronil/dimehipo) jika populasi tinggi, serta menjaga musuh alami

v  Berikut adalah poin-poin penting mengenai hama putih palsu pada padi: 

-          Gejala Serangan: Daun padi menggulung dan terdapat garis-garis putih transparan memanjang (15-20 cm).

-          Daun yang rusak berat akan mengering dan terlihat seperti terbakar.Sering muncul pada fase anakan maksimum hingga fase bunting.

v  Penyebab dan Kondisi:

-          Didorong oleh penggunaan pupuk Urea/Nitrogen yang berlebihan.

-          Sering meledak populasinya setelah musim kemarau panjang.

-          Larva menggerek jaringan hijau (klorofil) dari dalam lipatan daun.

v  Metode Pengendalian:

Ø  Kultur Teknis:

-          Menghindari pupuk nitrogen berlebih, pengaturan pengairan, sanitasi gulma (tanaman inang), dan menanam varietas tahan.

-          Musuh Alami: Melestarikan predator seperti laba-laba dan serangga Ophionea ishii ishii.

v  Kimiawi:

Ø  Menggunakan insektisida sistemik berbahan aktif fipronil, dimehipo, emamektin benzoate, atau flubendoamide jika serangan sudah parah (>50% daun rusak).

Ø  Lampu Perangkap: Pemasangan lampu pada malam hari untuk menangkap ngengat.

*Catatan Penting: Serangan hama putih palsu umumnya berhenti dengan sendirinya dan jarang menyebabkan gagal panen total, terutama jika terjadi pada awal fase vegetatif, karena tanaman masih dapat memulihkan dir

Yuk Kenali Walang sangit (Leptocorisa spp.)

Yuk Kenali Walang sangit (Leptocorisa spp.)

Walang sangit (Leptocorisa spp.) adalah hama padi yang menghisap cairan bulir padi saat fase pembungaan hingga matang susu, menyebabkan bulir hampa atau coklat kehitaman dan menurunkan kualitas panen. Hama ini dikenal karena bau menyengatnya dan dapat dikendalikan secara terpadu dengan metode alami (sanitasi lahan, refugia, perangkap, pestisida nabati seperti ekstrak daun pepaya atau sirsak) dan kimia (insektisida) saat populasi tinggi.

Gejala Serangan:

-          Bulir padi menjadi tidak terisi sempurna (hampa), menjadi coklat kehitaman, atau mudah rontok.

-          Muncul bercak-bercak pada bulir saat serangan di masa pengisian.

 

Cara Pengendalian:

v  Kultur Teknis & Sanitasi:

-          Bersihkan gulma rumput-rumputan di sekitar sawah yang menjadi inang alternatif.

-          Tanam tanaman refugia (bunga matahari, kenikir, dll.) di pematang untuk menarik musuh alami.

v  Mekanis & Fisik:

-          Pasang perangkap sederhana (botol bekas berisi keong mas cacah dan deterjen).

-          Gantung kapur barus di pinggir sawah untuk mengusir karena baunya.

-          Gunakan jaring sebelum fase pembungaan.

v  Biologis & Nabati:

Gunakan ekstrak tanaman seperti daun pepaya (75%) atau campuran sirsak dan tembakau sebagai pestisida nabati.

Manfaatkan musuh alami walang sangit (predator seperti laba-laba, kumbang) dengan menanam refugia.

Kimiawi (jika populasi tinggi):

-          Gunakan insektisida berbahan aktif seperti BPMC, fipronil, metolkarb, MIPC, atau propoksur.

-          Penyemprotan dilakukan pada pagi atau sore hari saat hama aktif.

Perhatian :

Hindari insektisida granul seperti karbofuran karena berbahaya bagi lingkungan.

Cairan walang sangit bisa menggigit kulit, menyebabkan gatal, bentol, atau lepuh; segera cuci dengan air mengalir dan kompres dingin

Sabtu, 24 Januari 2026

Karat Daun Pada Jagung.

 Karat Daun Pada Jagung.

Karat daun pada jagung adalah penyakit jamur (terutama Puccinia polysora) yang menyebabkan bintik-bintik cokelat kemerahan seperti karat pada daun, menghambat fotosintesis, dan menurunkan hasil panen, ditandai dengan munculnya pustula (bisul) berwarna oranye-coklat yang bisa berubah menjadi hitam, menyebar melalui angin dan kelembaban tinggi, serta dikendalikan dengan varietas tahan, rotasi tanaman, pemupukan seimbang, dan fungisida jika serangan parah.

v  Gejala pada tanaman :

Bintik Awal: Muncul bintik kecil bulat hingga lonjong, warna kuning kemerahan atau cokelat muda, seperti bisul atau karat pada permukaan daun atas dan bawah.

Pustula: Bintik berkembang menjadi pustula (penimbunan spora) berwarna cokelat kemerahan seperti tepung, lama-kelamaan berubah menjadi hitam kecoklatan saat spora matang.

Kerusakan Daun: Jaringan di sekitar pustula bisa menguning atau mati, daun menjadi kering, dan serangan parah dapat mematikan tanaman.

v  Penyebab :

Patogen: Cendawan Puccinia polysora (karat selatan) atau Puccinia sorghi (karat umum).

Penyebaran: Spora menyebar melalui angin, hujan, dan serangga.

Faktor Lingkungan: Curah hujan tinggi, kelembaban tinggi, dan cuaca mendung sangat mendukung perkembangan penyakit ini.

Sistem Budidaya: Monokultur (penanaman jagung terus-menerus) dapat meningkatkan risiko.

v  Pengendalian :

Varietas Tahan: Tanam varietas jagung yang diketahui tahan karat.

Waktu Tanam: Tanam lebih awal atau serempak pada awal musim kemarau untuk menghindari kondisi puncak serangan.

Rotasi Tanaman: Lakukan rotasi dengan tanaman yang tidak rentan.

Pemupukan Seimbang: Perhatikan dosis nitrogen agar tanaman lebih kuat.

Pengaturan Jarak Tanam: Jaga jarak tanam agar sirkulasi udara baik.

Fungisida: Jika serangan parah, gunakan fungisida kimia seperti zineb, tembaga oksiklorida, atau dithane sebagai pilihan terakhir.

Pencegahan dilakukan penyemprotan fungisida dengan bahan aktif difenokonazol dan azozksistrobin atau mankozeb sejak umur 30 – 40 hst.

Kenali Busuk Batang Pada Jagung.

 Kenali Busuk Batang Pada Jagung.

Busuk batang pada jagung, sering disebabkan oleh jamur (Fusarium, Colletotrichum) atau bakteri (Erwinia chrysanthemi), adalah penyakit serius yang menyebabkan batang lunak, berbau busuk, dan tanaman rebah. Pencegahannya meliputi perbaikan drainase, jarak tanam yang ideal, penggunaan varietas tahan, dan pemupukan N yang tidak berlebihan.

Berikut detail penyakit busuk batang pada jagung:

Penyebab: Umumnya disebabkan oleh infeksi jamur (Fusarium spp., Diplodia maydis, Gibberella zeae) dan bakteri (Erwinia chrysanthemi atau Dickeya zeae) yang masuk melalui akar atau luka, sering kali muncul pada kondisi lembab dan suhu tinggi.

Gejala: Batang bagian bawah membusuk (berlendir), berubah warna menjadi coklat, berbau tidak sedap, dan mudah patah/rebah. Daun juga bisa berubah warna menjadi kekuningan.

Faktor Pendorong: Tanah tergenang, curah hujan tinggi, populasi tanaman terlalu padat, dan pemupukan urea berlebihan.

Pengendalian:

Kultural: Mengatur jarak tanam (tidak terlalu rapat), memperbaiki sistem drainase agar tidak tergenang, dan membuang sisa tanaman yang terinfeksi.

Kimiawi: Penyemprotan fungisida (seperti bahan aktif belerang) atau bakterisida.

Varietas: Menanam benih hibrida yang memiliki ketahanan terhadap penyakit busuk batang.

Serangan ini dapat menyebabkan penurunan hasil panen yang signifikan, bahkan gagal panen jika tidak ditangani dengan cepat pada fase awal.

Busuk Tongkol Pada Jagung.

 Busuk Tongkol Pada Jagung.

Busuk tongkol pada jagung, yang disebabkan oleh jamur Fusarium, Diplodia, dan Gibberella, adalah penyakit serius yang mengurangi hasil hingga 70-100% dan menghasilkan mikotoksin berbahaya bagi manusia/ternak. Gejala umum meliputi biji berubah warna (putih, merah muda, cokelat), miselium jamur pada kelobot, dan tongkol busuk. Pengendalian utama melibatkan varietas tahan, rotasi tanaman, pengelolaan sisa tanaman, dan pengeringan cepat hasil panen.

Berikut adalah rincian mengenai ketiga penyakit tersebut:

Busuk Tongkol Fusarium (Fusarium verticillioides):

Gejala: Jamur putih hingga merah muda/salmon sering muncul, terkadang menyebabkan biji tampak "bergaris" putih (starbursting). Biasanya infeksi terjadi karena kerusakan serangga atau burung.

Mikotoksin: Menghasilkan fumonisin yang berbahaya, terutama bagi kuda, sapi, dan domba.

Busuk Tongkol Diplodia (Diplodia maydis):

Gejala: Infeksi dimulai dari pangkal tongkol dengan jamur putih tebal. Biji menjadi cokelat keabu-abuan dan membusuk, seringkali terdapat bintik-bintik hitam kecil (piknidia) pada kelobot.

Kondisi: Berkembang pesat pada cuaca sejuk dan lembap.

Busuk Tongkol Gibberella (Gibberella zeae):

Gejala: Ditandai dengan warna merah atau merah muda yang khas pada biji dan kelobot, biasanya dimulai dari ujung tongkol.

Mikotoksin: Menghasilkan deoxynivalenol (DON atau vomitoxin) yang dapat menyebabkan penolakan pakan pada babi.

Strategi Pengendalian:

Varietas Tahan: Menggunakan benih jagung hibrida yang memiliki ketahanan terhadap infeksi busuk tongkol.

Rotasi Tanaman: Melakukan rotasi tanaman (misalnya ke kedelai) selama 1-3 tahun untuk mengurangi inokulum jamur yang tertinggal di sisa tanaman.

Pengolahan Tanah: Melakukan pengolahan tanah (bajak) untuk mengubur sisa-sisa jagung yang terinfeksi.

Manajemen Panen & Penyimpanan: Panen segera setelah kadar air cukup rendah, bersihkan biji dari kotoran/biji terinfeksi, dan keringkan segera hingga kadar air 15-16% untuk mencegah perkembangan jamur di penyimpanan.

Pengendalian Kimiawi: Aplikasi fungisida (seperti bahan aktif propikonazol) pada tahap awal perkembangan biji/penyerbukan dapat membantu.

Pengeringan yang cepat dan penyimpanan dalam kondisi dingin serta kering sangat krusial untuk mencegah peningkatan racun (mikotoksin) setelah panen

Hama Putih Palsu (Cnaphalocrocis medinalis)

  Hama putih palsu (Cnaphalocrocis medinalis) adalah hama yang menyebabkan daun padi menggulung dan memiliki bercak putih memanjang, seri...