Busuk tongkol pada jagung, yang disebabkan oleh jamur Fusarium, Diplodia, dan Gibberella, adalah penyakit serius yang mengurangi hasil hingga 70-100% dan menghasilkan mikotoksin berbahaya bagi manusia/ternak. Gejala umum meliputi biji berubah warna (putih, merah muda, cokelat), miselium jamur pada kelobot, dan tongkol busuk. Pengendalian utama melibatkan varietas tahan, rotasi tanaman, pengelolaan sisa tanaman, dan pengeringan cepat hasil panen.
Berikut adalah rincian mengenai ketiga penyakit tersebut:
Busuk Tongkol Fusarium (Fusarium verticillioides):
Gejala: Jamur putih hingga merah muda/salmon sering muncul, terkadang menyebabkan biji tampak "bergaris" putih (starbursting). Biasanya infeksi terjadi karena kerusakan serangga atau burung.
Mikotoksin: Menghasilkan fumonisin yang berbahaya, terutama bagi kuda, sapi, dan domba.
Busuk Tongkol Diplodia (Diplodia maydis):
Gejala: Infeksi dimulai dari pangkal tongkol dengan jamur putih tebal. Biji menjadi cokelat keabu-abuan dan membusuk, seringkali terdapat bintik-bintik hitam kecil (piknidia) pada kelobot.
Kondisi: Berkembang pesat pada cuaca sejuk dan lembap.
Busuk Tongkol Gibberella (Gibberella zeae):
Gejala: Ditandai dengan warna merah atau merah muda yang khas pada biji dan kelobot, biasanya dimulai dari ujung tongkol.
Mikotoksin: Menghasilkan deoxynivalenol (DON atau vomitoxin) yang dapat menyebabkan penolakan pakan pada babi.
Strategi Pengendalian:
Varietas Tahan: Menggunakan benih jagung hibrida yang memiliki ketahanan terhadap infeksi busuk tongkol.
Rotasi Tanaman: Melakukan rotasi tanaman (misalnya ke kedelai) selama 1-3 tahun untuk mengurangi inokulum jamur yang tertinggal di sisa tanaman.
Pengolahan Tanah: Melakukan pengolahan tanah (bajak) untuk mengubur sisa-sisa jagung yang terinfeksi.
Manajemen Panen & Penyimpanan: Panen segera setelah kadar air cukup rendah, bersihkan biji dari kotoran/biji terinfeksi, dan keringkan segera hingga kadar air 15-16% untuk mencegah perkembangan jamur di penyimpanan.
Pengendalian Kimiawi: Aplikasi fungisida (seperti bahan aktif propikonazol) pada tahap awal perkembangan biji/penyerbukan dapat membantu.
Pengeringan yang cepat dan penyimpanan dalam kondisi dingin serta kering sangat krusial untuk mencegah peningkatan racun (mikotoksin) setelah panen
