Tampilkan postingan dengan label jamur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jamur. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Januari 2026

Busuk Tongkol Pada Jagung.

 Busuk Tongkol Pada Jagung.

Busuk tongkol pada jagung, yang disebabkan oleh jamur Fusarium, Diplodia, dan Gibberella, adalah penyakit serius yang mengurangi hasil hingga 70-100% dan menghasilkan mikotoksin berbahaya bagi manusia/ternak. Gejala umum meliputi biji berubah warna (putih, merah muda, cokelat), miselium jamur pada kelobot, dan tongkol busuk. Pengendalian utama melibatkan varietas tahan, rotasi tanaman, pengelolaan sisa tanaman, dan pengeringan cepat hasil panen.

Berikut adalah rincian mengenai ketiga penyakit tersebut:

Busuk Tongkol Fusarium (Fusarium verticillioides):

Gejala: Jamur putih hingga merah muda/salmon sering muncul, terkadang menyebabkan biji tampak "bergaris" putih (starbursting). Biasanya infeksi terjadi karena kerusakan serangga atau burung.

Mikotoksin: Menghasilkan fumonisin yang berbahaya, terutama bagi kuda, sapi, dan domba.

Busuk Tongkol Diplodia (Diplodia maydis):

Gejala: Infeksi dimulai dari pangkal tongkol dengan jamur putih tebal. Biji menjadi cokelat keabu-abuan dan membusuk, seringkali terdapat bintik-bintik hitam kecil (piknidia) pada kelobot.

Kondisi: Berkembang pesat pada cuaca sejuk dan lembap.

Busuk Tongkol Gibberella (Gibberella zeae):

Gejala: Ditandai dengan warna merah atau merah muda yang khas pada biji dan kelobot, biasanya dimulai dari ujung tongkol.

Mikotoksin: Menghasilkan deoxynivalenol (DON atau vomitoxin) yang dapat menyebabkan penolakan pakan pada babi.

Strategi Pengendalian:

Varietas Tahan: Menggunakan benih jagung hibrida yang memiliki ketahanan terhadap infeksi busuk tongkol.

Rotasi Tanaman: Melakukan rotasi tanaman (misalnya ke kedelai) selama 1-3 tahun untuk mengurangi inokulum jamur yang tertinggal di sisa tanaman.

Pengolahan Tanah: Melakukan pengolahan tanah (bajak) untuk mengubur sisa-sisa jagung yang terinfeksi.

Manajemen Panen & Penyimpanan: Panen segera setelah kadar air cukup rendah, bersihkan biji dari kotoran/biji terinfeksi, dan keringkan segera hingga kadar air 15-16% untuk mencegah perkembangan jamur di penyimpanan.

Pengendalian Kimiawi: Aplikasi fungisida (seperti bahan aktif propikonazol) pada tahap awal perkembangan biji/penyerbukan dapat membantu.

Pengeringan yang cepat dan penyimpanan dalam kondisi dingin serta kering sangat krusial untuk mencegah peningkatan racun (mikotoksin) setelah panen

Busuk Pelepah Oleh Jamur Rhizoctonia Solanipada Jagung.

 Busuk Pelepah Oleh Jamur Rhizoctonia Solanipada Jagung.

Busuk pelepah pada jagung, yang disebabkan oleh jamur Rhizoctonia solani, merupakan penyakit serius yang sering muncul saat tanaman berbunga (40-50 HST) pada kondisi lembab (RH 90-100%). Gejalanya berupa bercak berair, coklat keabu-abuan pada pelepah, daun, dan tongkol, yang dapat menyebabkan kehilangan hasil hingga 100%.

v  Gejala dan Penyebaran Gejala: Bercak konsentris berair berwarna coklat sawo matang atau abu-abu pada pelepah daun. Serangan lanjut menyebabkan bercak kapas coklat muda dengan bintik hitam, pelepah mengering, serta tanaman rebah.Penyebaran: Melalui tanah, sisa tanaman terinfeksi, rumput liar, air irigasi, dan peralatan pertanian.Faktor Pendukung: Suhu 15° – 35° (optimal 30°) kelembaban tinggi (90-100%). Serangan dimulai dari daun paling bawah kemudian jika tidak di atasi akan berjalan ke atas sehingga akan menyebabkan tanaman kering dan mati.

v  Pengendalian Terpadu :

Pengendalian sulit dilakukan hanya dengan fungisida, sehingga diperlukan kombinasi:

-        Varietas Tahan: Menggunakan benih jagung yang tahan terhadap penyakit busuk pelepah.

-   Kultur Teknis: Mengatur jarak tanam (tidak terlalu padat) untuk mengurangi kelembaban, serta membersihkan gulma.

M  Manajemen Irigasi : Manajemen irigasi perlu agar kondisi tanah tidak terlalu lembab sehingga jamur tumbuh.

-        Pengolahan Tanah: Membalik tanah untuk menimbun sisa-sisa tanaman yang terinfeksi.

-       Agens Hayati: Mengaplikasikan mikroorganisme antagonis seperti Trichoderma spp. atau Gliocladium spp. untuk menghambat pertumbuhan jamur patogen.

-       Penggunaan Fungisida: Sebagai langkah terakhir, menggunakan fungisida yang efektif saat gejala awal muncul dengan bahan aktif mankozeb dan karbendazim.

Bercak Daun atau Hawar Daun Pada Jagung.

 Bercak Daun atau Hawar Daun Pada Jagung.

Bercak daun jagung adalah penyakit umum yang disebabkan oleh jamur atau bakteri, ditandai dengan munculnya bintik kuning atau coklat pada daun yang bisa membesar menjadi bercak berbentuk balok, mengganggu fotosintesis, dan berpotensi menurunkan hasil panen. Penyebabnya antara lain jamur Bipolaris maydis (Grey Leaf Spot) dan bakteri Xanthomonas vasicola, menyebar lewat angin/percikan air, dan dapat dikendalikan dengan varietas tahan, fungisida (seperti difenokonazol), rotasi tanaman, dan sanitasi lahan.

v  Penyebab Utama :

Jamur: Bipolaris maydis (Penyebab bercak daun abu-abu/Grey Leaf Spot), Curvularia spp., atau Helminthosporium.

Bakteri:

Xanthomonas vasicola (Penyebab bercak daun bakteri) atau Pseudomonas syringae pv. zeae (Bercak daun Holcus).

v  Gejala :

-          Muncul bintik kecil kuning kecoklatan hingga coklat kemerahan pada daun.

-          Bintik membesar menjadi bercak persegi panjang dengan tepi sejajar pembuluh daun (mirip balok).

-          Pada infeksi parah, bercak menyatu, daun mengering, layu, atau mati, bahkan tongkol bisa rusak.

v  Cara Pengendalian :

-          Kultur Teknis:

Gunakan varietas tahan hawar daun. Lakukan rotasi tanaman untuk mengurangi sumber infeksi di tanah. Bersihkan sisa tanaman terinfeksi dengan mengubur dalam atau membakar. Gunakan pupuk berimbang karena tanaman yang terlalu banyak menyerap unsur hara Nitrogen cenderung rentan.

-          Kimiawi:

Aplikasikan fungisida berbahan aktif Difenoconazole, Azoxystrobin, Mancozeb, atau Carbendazim.

-          Manajemen Budidaya:

Jaga kesuburan tanah, berikan pupuk berimbang, dan pantau lahan secara rutin. Lakukan pencegahan mulai dari umur 30 – 40 hst.

Saran Tambahan:

Identifikasi jenis penyakit secara akurat, karena gejalanya bisa mirip dengan kerusakan herbisida. Untuk kondisi parah, segera eradikasi tanaman terinfeksi untuk mencegah penyebaran lebih lanjut.

Waspada !! Bulai (Downy Mildew) Pada Jagung.

 Waspada !! Bulai (Downy Mildew) Pada Jagung.

Bulai pada jagung adalah penyakit utama yang disebabkan oleh jamur Peronosclerospora maydis, ditandai dengan gejala klorosis (daun belang kuning-putih), daun kaku/menyempit, dan lapisan spora putih di pagi hari. Infeksi terjadi pada usia 1-5 minggu, menyebabkan kerdil, kegagalan tongkol, dan potensi gagal panen. Pengendalian efektif melibatkan penggunaan benih tahan, perlakuan benih (fungisida sistemik), tanam serempak, dan eradikasi tanaman sakit.

v  Gejala Bulai pada Jagung :

Awal Serangan: Daun muda menunjukkan bercak klorotik atau belang memanjang sejajar tulang daun (kuning ke putih).

Lanjutan: Daun menjadi kaku, menyempit, dan pertumbuhan tanaman terhambat (kerdil).

Pagi Hari: Terdapat lapisan tepung berwarna putih halus di permukaan daun (terutama saat lembab).

Dampak: Tanaman yang terinfeksi sebelum umur 1 bulan biasanya tidak berproduksi/mati, dan dapat menghasilkan anakan yang banyak atau kelainan pada tongkol.

v  Penyebab dan Penyebaran :

Disebabkan oleh cendawan Peronosclerospora maydis (umum di Jawa), P. philippinensis (Sulawesi), dan P. sorghi.

Penyebaran utama melalui spora (konidia) yang terbawa angin.

Infeksi maksimal terjadi saat kelembaban tinggi dan suhu rendah (dini hari pukul 02.00-04.00).

v  Strategi Pengendalian Terpadu :

Penggunaan Varietas Tahan: Menanam benih jagung hibrida yang memiliki ketahanan tinggi terhadap penyakit bulai.

Perlakuan Benih (Seed Treatment): Menggunakan fungisida sistemik dengan bahan aktif metalaksil atau dimetomorf sebelum tanam.

Tanam Serempak: Mengatur waktu tanam agar seragam di satu wilayah untuk memutus siklus hidup jamur.

Eradikasi: Mencabut dan membakar tanaman yang terinfeksi sedini mungkin agar spora tidak menyebar ke tanaman sehat.

Rotasi Tanaman: Menanam tanaman selain jagung (bukan famili Gramineae) untuk memutuskan siklus hidup jamur yang bersifat parasit obligat.

Penggunaan Fungisida: Penyemprotan fungisida sistemik (contoh: trifloksistrobin + tebukonazol, azoksitrobin + difekonazol, Dimetomorf) pada umur 10-30 Hst.

v  Cara penyemprotan dilakukan di pagi hari saat masih berembun. Selain itu di semprot di atas dan bawah daun agar lebih maksimal karena spora berada di bawah daun.

Hama Putih Palsu (Cnaphalocrocis medinalis)

  Hama putih palsu (Cnaphalocrocis medinalis) adalah hama yang menyebabkan daun padi menggulung dan memiliki bercak putih memanjang, seri...