Sabtu, 24 Januari 2026

Busuk Pelepah Oleh Jamur Rhizoctonia Solanipada Jagung.

 Busuk Pelepah Oleh Jamur Rhizoctonia Solanipada Jagung.

Busuk pelepah pada jagung, yang disebabkan oleh jamur Rhizoctonia solani, merupakan penyakit serius yang sering muncul saat tanaman berbunga (40-50 HST) pada kondisi lembab (RH 90-100%). Gejalanya berupa bercak berair, coklat keabu-abuan pada pelepah, daun, dan tongkol, yang dapat menyebabkan kehilangan hasil hingga 100%.

v  Gejala dan Penyebaran Gejala: Bercak konsentris berair berwarna coklat sawo matang atau abu-abu pada pelepah daun. Serangan lanjut menyebabkan bercak kapas coklat muda dengan bintik hitam, pelepah mengering, serta tanaman rebah.Penyebaran: Melalui tanah, sisa tanaman terinfeksi, rumput liar, air irigasi, dan peralatan pertanian.Faktor Pendukung: Suhu 15° – 35° (optimal 30°) kelembaban tinggi (90-100%). Serangan dimulai dari daun paling bawah kemudian jika tidak di atasi akan berjalan ke atas sehingga akan menyebabkan tanaman kering dan mati.

v  Pengendalian Terpadu :

Pengendalian sulit dilakukan hanya dengan fungisida, sehingga diperlukan kombinasi:

-        Varietas Tahan: Menggunakan benih jagung yang tahan terhadap penyakit busuk pelepah.

-   Kultur Teknis: Mengatur jarak tanam (tidak terlalu padat) untuk mengurangi kelembaban, serta membersihkan gulma.

M  Manajemen Irigasi : Manajemen irigasi perlu agar kondisi tanah tidak terlalu lembab sehingga jamur tumbuh.

-        Pengolahan Tanah: Membalik tanah untuk menimbun sisa-sisa tanaman yang terinfeksi.

-       Agens Hayati: Mengaplikasikan mikroorganisme antagonis seperti Trichoderma spp. atau Gliocladium spp. untuk menghambat pertumbuhan jamur patogen.

-       Penggunaan Fungisida: Sebagai langkah terakhir, menggunakan fungisida yang efektif saat gejala awal muncul dengan bahan aktif mankozeb dan karbendazim.

Bercak Daun atau Hawar Daun Pada Jagung.

 Bercak Daun atau Hawar Daun Pada Jagung.

Bercak daun jagung adalah penyakit umum yang disebabkan oleh jamur atau bakteri, ditandai dengan munculnya bintik kuning atau coklat pada daun yang bisa membesar menjadi bercak berbentuk balok, mengganggu fotosintesis, dan berpotensi menurunkan hasil panen. Penyebabnya antara lain jamur Bipolaris maydis (Grey Leaf Spot) dan bakteri Xanthomonas vasicola, menyebar lewat angin/percikan air, dan dapat dikendalikan dengan varietas tahan, fungisida (seperti difenokonazol), rotasi tanaman, dan sanitasi lahan.

v  Penyebab Utama :

Jamur: Bipolaris maydis (Penyebab bercak daun abu-abu/Grey Leaf Spot), Curvularia spp., atau Helminthosporium.

Bakteri:

Xanthomonas vasicola (Penyebab bercak daun bakteri) atau Pseudomonas syringae pv. zeae (Bercak daun Holcus).

v  Gejala :

-          Muncul bintik kecil kuning kecoklatan hingga coklat kemerahan pada daun.

-          Bintik membesar menjadi bercak persegi panjang dengan tepi sejajar pembuluh daun (mirip balok).

-          Pada infeksi parah, bercak menyatu, daun mengering, layu, atau mati, bahkan tongkol bisa rusak.

v  Cara Pengendalian :

-          Kultur Teknis:

Gunakan varietas tahan hawar daun. Lakukan rotasi tanaman untuk mengurangi sumber infeksi di tanah. Bersihkan sisa tanaman terinfeksi dengan mengubur dalam atau membakar. Gunakan pupuk berimbang karena tanaman yang terlalu banyak menyerap unsur hara Nitrogen cenderung rentan.

-          Kimiawi:

Aplikasikan fungisida berbahan aktif Difenoconazole, Azoxystrobin, Mancozeb, atau Carbendazim.

-          Manajemen Budidaya:

Jaga kesuburan tanah, berikan pupuk berimbang, dan pantau lahan secara rutin. Lakukan pencegahan mulai dari umur 30 – 40 hst.

Saran Tambahan:

Identifikasi jenis penyakit secara akurat, karena gejalanya bisa mirip dengan kerusakan herbisida. Untuk kondisi parah, segera eradikasi tanaman terinfeksi untuk mencegah penyebaran lebih lanjut.

Waspada !! Bulai (Downy Mildew) Pada Jagung.

 Waspada !! Bulai (Downy Mildew) Pada Jagung.

Bulai pada jagung adalah penyakit utama yang disebabkan oleh jamur Peronosclerospora maydis, ditandai dengan gejala klorosis (daun belang kuning-putih), daun kaku/menyempit, dan lapisan spora putih di pagi hari. Infeksi terjadi pada usia 1-5 minggu, menyebabkan kerdil, kegagalan tongkol, dan potensi gagal panen. Pengendalian efektif melibatkan penggunaan benih tahan, perlakuan benih (fungisida sistemik), tanam serempak, dan eradikasi tanaman sakit.

v  Gejala Bulai pada Jagung :

Awal Serangan: Daun muda menunjukkan bercak klorotik atau belang memanjang sejajar tulang daun (kuning ke putih).

Lanjutan: Daun menjadi kaku, menyempit, dan pertumbuhan tanaman terhambat (kerdil).

Pagi Hari: Terdapat lapisan tepung berwarna putih halus di permukaan daun (terutama saat lembab).

Dampak: Tanaman yang terinfeksi sebelum umur 1 bulan biasanya tidak berproduksi/mati, dan dapat menghasilkan anakan yang banyak atau kelainan pada tongkol.

v  Penyebab dan Penyebaran :

Disebabkan oleh cendawan Peronosclerospora maydis (umum di Jawa), P. philippinensis (Sulawesi), dan P. sorghi.

Penyebaran utama melalui spora (konidia) yang terbawa angin.

Infeksi maksimal terjadi saat kelembaban tinggi dan suhu rendah (dini hari pukul 02.00-04.00).

v  Strategi Pengendalian Terpadu :

Penggunaan Varietas Tahan: Menanam benih jagung hibrida yang memiliki ketahanan tinggi terhadap penyakit bulai.

Perlakuan Benih (Seed Treatment): Menggunakan fungisida sistemik dengan bahan aktif metalaksil atau dimetomorf sebelum tanam.

Tanam Serempak: Mengatur waktu tanam agar seragam di satu wilayah untuk memutus siklus hidup jamur.

Eradikasi: Mencabut dan membakar tanaman yang terinfeksi sedini mungkin agar spora tidak menyebar ke tanaman sehat.

Rotasi Tanaman: Menanam tanaman selain jagung (bukan famili Gramineae) untuk memutuskan siklus hidup jamur yang bersifat parasit obligat.

Penggunaan Fungisida: Penyemprotan fungisida sistemik (contoh: trifloksistrobin + tebukonazol, azoksitrobin + difekonazol, Dimetomorf) pada umur 10-30 Hst.

v  Cara penyemprotan dilakukan di pagi hari saat masih berembun. Selain itu di semprot di atas dan bawah daun agar lebih maksimal karena spora berada di bawah daun.

Hama Wereng Pada Jagung.

Hama Wereng Pada Jagung.

    Hama wereng pada jagung, terutama spesies Peregrinus maidis (wereng jagung) dan Stenocranus pacificus (wereng perut putih), merupakan serangga penghisap cairan tanaman yang dapat menurunkan hasil panen hingga 50%. Serangan di jagung biasanya di bagian silking atau di bagian tasel tanaman jagung. Serangan pada silking dan tasel tersebut berakibat pada terganggunya proses polinasi yang kurang maksimal sehingga berakibat pada pengisian atau grain filling jagung tidak maksimal dan mengurangi bobot jagung.

v  Karakteristik dan Dampak :

Identifikasi: Serangga dewasa berukuran kecil (3-4 mm), bertubuh ramping kuning kecokelatan dengan sayap transparan, dan sangat aktif melompat.

Gejala Serangan: Tanaman menunjukkan bekas gigitan pada daun, pucuk daun layu, dan dalam serangan hebat dapat menyebabkan kondisi puso (hopperburn) atau mati total.

Bahaya Sekunder: Selain menghisap nutrisi, wereng jagung adalah vektor utama virus kerdil jagung (corn stunt) dan menyebabkan tumbuhnya embun jelaga yang menghambat fotosintesis.

v  Cara Pengendalian :

Praktik Kultural (Budidaya):

Rotasi Tanaman: Menanam tanaman selain inang (bukan jagung) pada musim bergantian untuk memutus siklus hidup wereng.

Pengaturan Jarak Tanam: Mengurangi kepadatan populasi melalui sirkulasi udara yang baik.

Pemupukan Berimbang: Menghindari penggunaan nitrogen berlebih yang dapat memicu ledakan populasi.

Pengendalian Hayati & Alami:

Musuh Alami: Memanfaatkan predator alami di sekitar lahan.

Bahan Organik: Penggunaan cairan bawang putih dapat mengusir wereng karena bau yang menyengat dan mengganggu proses ganti kulitnya.

Pengendalian Kimiawi (Insektisida):

Bahan Aktif: Gunakan insektisida sistemik atau kontak seperti triflumezopyrim (melumpuhkan dalam 1-2 jam), nitempyram, imidakloprid, atau buprofezin.

Waktu Aplikasi: Disarankan penyemprotan rutin setiap 1-2 hari jika serangan masif, terutama pada bagian batang dan bawah daun tempat wereng berkumpul

 

kenali Kutu Daun (Aphididae) dan Kutu Kebul (Bemisia tabaci).

kenali Kutu Daun (Aphididae) dan Kutu Kebul (Bemisia tabaci). 

Kutu daun (Aphididae) dan kutu kebul (Bemisia tabaci) adalah hama pengisap cairan floem yang serius pada tanaman jagung, menyebabkan daun kuning, keriting, pertumbuhan kerdil, serta produksi embun madu yang memicu jamur jelaga. Kutu kebul, yang berwarna putih dan sering berada di bawah daun, juga bertindak sebagai vektor virus.

1. Kutu Daun Jagung (Aphids)

Gejala: Berkoloni di pucuk tanaman, menyebabkan daun melengkung/menggulung, dan menghambat pertumbuhan.

Dampak: Menghasilkan embun madu lengket yang memicu jamur jelaga hitam, mengurangi fotosintesis, serta berpotensi menularkan virus mosaik kerdil.

Karakteristik: Berwarna hijau, hidup berkoloni, dan disukai cuaca hangat.

2. Kutu Kebul (Whitefly)

Gejala: Hama kecil berwarna putih yang bersembunyi di balik daun. Jika tanaman digoyang, mereka akan terbang seperti asap.

Dampak: Menyebabkan klorosis (daun menguning), mosaik, dan keriting daun. Kutu kebul adalah vektor utama penyebar virus gemini/virus kuning.

3. Pengendalian Hama Kutu Daun dan Kebul

Hayati: Menggunakan musuh alami seperti kepik, larva lacewing, atau jamur entomopatogen.

Nabati: Penyemprotan larutan neem oil (minyak mimba), rebusan daun sirsak, atau tembakau untuk meluruhkan lapisan lilin kutu.

Kultur Teknis: Membersihkan gulma inang (seperti rumput Johnson), tidak menggunakan pupuk nitrogen berlebih, dan memangkas daun yang terserang berat.

Kimiawi: Insektisida bahan aktif imidakloprid atau abamektin dapat digunakan saat serangan berat, dengan rotasi bahan aktif untuk mencegah resistensi

Penggerek Batang Jagung (Ostrinia furnacalis).

 

Penggerek Batang Jagung (Ostrinia furnacalis). 

Penggerek Batang Jagung (Ostrinia furnacalis) adalah hama utama tanaman jagung di Asia yang menyerang daun, batang, hingga tongkol, menyebabkan kehilangan hasil hingga 80%. Larva mengebor batang dan memakan jaringan dalam, menyebabkan batang mudah patah dan aliran nutrisi terhambat. Pengendalian efektif melibatkan teknik kultur teknis, pemanfaatan musuh alami, dan penggunaan insektisida.

v  Gejala Serangan:

Daun: Adanya lubang kecil atau bercak transparan pada daun muda (serangan awal).

Batang: Terdapat lubang gerekan dengan tumpukan kotoran seperti serbuk gergaji. Batang mudah patah akibat gerekan di dalam.

Bunga Jantan: Bunga jantan menjadi rusak atau patah.

Tongkol: Larva menggerek pangkal tongkol atau memakan biji.

v  Siklus Hidup dan Serangan:

Hama mengalami metamorfosis sempurna: telur, larva (5 instan), pupa, dan imago (ngengat).

Larva instar akhir adalah yang paling merusak karena mengebor batang dan pangkal tongkol.

Generasi pertama sering menyerang fase vegetatif, sementara generasi kedua menyerang fase generatif/reproduktif.

Strategi Pengendalian:

Kultur Teknis: Penanaman serempak, pergiliran tanaman (non-inang), dan pengaturan jarak tanam.

Pemotongan Bunga Jantan: Memangkas sebagian bunga jantan untuk mengurangi populasi larva.

Musuh Alami: Pemanfaatan parasitoid telur Trichogramma sp., parasitoid larva Chelonis sp., dan predator.

Insektisida: Penggunaan insektisida sistemik atau kontak (misal: berbahan aktif deltamethrin) saat ambang ekonomi tercapai (1 kelompok telur/30 tanaman).

Biopestisida: Penggunaan cendawan Beauveria bassiana atau bakteri Bacillus thuringiensis.

Hama Putih Palsu (Cnaphalocrocis medinalis)

  Hama putih palsu (Cnaphalocrocis medinalis) adalah hama yang menyebabkan daun padi menggulung dan memiliki bercak putih memanjang, seri...